);

Jurusan Terbaik: Antara Mitos dan Realita

Taman Kampus

Kalau kalian tanya kepada mahasiswa teknik informatika, tentu mereka akan menjawab jurusan terbaik adalah jurusan teknik informatika. Begitupun jika kalian tanya mahasiswa kedokteran, hukum, akuntasi, dan jurusan-jurusan favorit lainnya, mereka akan dengan bangga menyebut jurusannya sebagai jurusan terbaik. Tapi apakah memang benar jurusan-jurusan tersebut adalah jurusan terbaik? Tunggu dulu.

Menurut saya pribadi jurusan terbaik itu tidak ada. Kenapa? karena masing-masing jurusan itu unik. Tidak bisa dibandingkan antara satu dengan lainnya. Tentu sangat tidak fair membandingkan jurusan hukum dengan jurusan kedokteran misalnya. Atau membandingkan jurusan akuntansi dengan jurusan teknik informatika. Karena fokus masing-masing jurusan tersebut jauh berbeda. Kalau kata orang-orang, nggak apple to apple.

Mestinya kalau memang mau membandingkan untuk dicari yang terbaik, bandingkanlah jurusan yang setipe. Misalnya jurusan kedokteran UI dan kedokteran Unair misalnya. Nah itu baru bisa dibandingkan dan dicari mana yang lebih baik. Karena ada banyak sekali kesamaan yang bisa dibandingkan antara kedua jurusan tersebut. Jadi parameternya jelas.

Sementara jika kita membandingkan jurusan hukum dengan jurusan kedokteran, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah menemukan mana jurusan yang lebih baik. Sama hanya membandingkan apel dengan jeruk. Yang suka apel tentu akan memilih apel. Begitupun sebaliknya. Maka dari itu, membandingkan apel ya semestinya dengan apel.

Gedung kampus
Photo by Pixabay from Pexels

Salah Kaprah Penggunaan Istilah Jurusan Terbaik

Jurusan terbaik itu tidak pernah ada. Karena tidak ada jurusan yang cocok untuk semua orang. Semua jurusan mempunyai konsentrasi dan fokus sendiri-sendiri. Dan semua orang juga punya cita-cita, minat, bakat, dan potensi yang berbeda-beda. Maka dari itu, jawaban dari pertanyaan “jurusan terbaik itu apa?” adalah “tidak ada”.

Maka dari itu, jangan tanyakan apa jurusan terbaik. Karena yang terbaik buat semua orang itu tidak ada. Yang baik buat kamu, belum tentu baik buat orang lain. Begitupun sebaliknya. Maka dari itu, istilah yang paling pas buat menyebut jurusan itu sebenarnya kecocokan, bukan baik atau tidak. “Jurusan yang cocok buat saya apa, ya?”, mestinya pertanyaan yang kita ajukan adalah semacam itu.

Baru kalau sudah ketemu jurusannya, dibandingkan antara jurusan yang sama di masing-masing kampus. Kira-kira mana yang paling pas buat kamu, baik dari segi lokasi, biaya, akreditasi, dan lain sebagainya. Begitu cara yang paling tepat buat membandingkan jurusan.

Kuliah itu seperti halnya bepergian. Dan selayaknya bepergian, kita harus punya tujuan. Karena pergi tanpa tujuan hanya akan membuat kita kebingungan di tengah jalan.

Perjalanan Kuliah
Photo by Kun Fotografi from Pexels

Kuliah Adalah Perjalanan

Kalau kuliah itu bisa dianggap sebagai sebuah perjalanan, maka jurusan itu layaknya sebuah kereta atau bus umum yang mengantar kita sampai ke tujuan. Memang benar, ada beberapa bus yang memiliki fasilitas yang lebih memadai dibandingkan dengan bus-bus yang lain. Bus berfasilitas lengkap ini biasanya memiliki plat merah (difasilitasi pemerintah). Karena difasilitasi pemerintah, maka biayanya seringkali lebih terjangkau dibandingkan dengan yang tidak berplat merah.

Tapi ada juga bus berfasilitas lengkap lain yang dioperasikan secara mandiri. Dan karena dioperasikan secara mandiri, tarif yang harus dibayarkan untuk naik kendaraan ini biasanya lebih mahal daripada ketika kita naik bus berplat merah.

Selanjutnya, bayangkan perguruan tinggi itu sebagai PO yang menyediakan armada kendaraan. Karena dengan begitu, kita akan menganggap semua jurusan yang ada dalam institusi tersebut setara. Tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk kualitasnya.

Bus
Photo by Jimmy Chan from Pexels

Setiap Tujuan itu Unik

Saya tidak paham apa yang membuat orang-orang beranggapan bahwa jurusan A lebih baik daripada jurusan B atau sebaliknya. Karena setiap jurusan itu mempunyai tujuan yang berbeda-beda. Seperti halnya pertanyaan saya di atas, bagaimana mungkin bus jurusan Jogjakarta dianggap lebih baik daripada bus jurusan Jakarta?

Kalau saya dari Surabaya mau ke Malioboro atau ke Prambanan, tentu saya akan lebih memilih bus dengan tujuan Jogjakarta. Bukannya bus dengan tujuan Jakarta. Meskipun Bus dengan tujuan Jakarta lebih bagus misalnya. Pun sebaliknya jika saya ingin ke Monas atau ke Ancol saya akan memilih bus jurusan Jakarta, bukan bus jurusan Jogjakarta. Meskipun secara ongkos, bus jurusan Jogjakarta lebih murah.

Oleh karenanya, hal pertama yang harus dimiliki oleh semua orang yang ingin kuliah adalah pengetahuan atas potensi diri. Atau jika mengenal potensi diri terasa begitu sulit, minimal kita tahu apa yang kita minati atau punya cita-cita yang jelas mau ngapain setelah lulus kuliah. Mau jadi apa, mau kerja di mana, mau bikin apa, itu semuanya harus jelas dulu. Kalau sudah jelas, baru deh pilih jurusan yang bisa mengantarkan kita pada tujuan kita tersebut.

Minat adalah kompas
Photo by Valentin Antonucci from Pexels

Menjadikan Minat dan Potensi Sebagai Kompas

Jangan terlalu terburu-buru menentukan pilihan kalau kalian belum tahu apa potensi diri kalian atau apa bidang yang kalian minati. Karena minat dan potensi inilah yang akan jadi kompas dan penunjuk jalan ke mana seharusnya menentukan tujuan.

Kalau memang minat dan potensi kalian di dunia komputer dan pemrograman ya mending memilih jurusan teknik informatika. Kalau memang minat dan potensi kalian ada di dunia fisika, khususnya bidang elektronika yang mending memilih jurusan teknik elektro. Kalau memang minat dan potensi kalian ada di dunia fisika dan kimia, ya mending memilih jurusan teknik kimia. Kalau memang minat dan potensi kalian ada di dunia medis dan biologi, ya mending memilih kedokteran. Begitu seterusnya.

Bayangkan masa-masa memilih jurusan itu seperti halnya memilih bus ketika berada di terminal. Jangan asal pilih bus. Pilih bus yang benar-benar akan mengantarkan kalian ke tujuan yang kalian inginkan. Karena salah pilih bus itu efeknya bisa sangat fatal. Menguras waktu dan biaya. Belum lagi akan membuat kita tidak nyaman selama perjalanan.

Jangan Mudah Terpengaruh oleh Stigma

Fokus pada diri kalian sendiri. Jangan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Menjadi siswa paling pandai di kelas itu bukan berarti harus masuk jurusan favorit seperti kedokteran atau teknik informatika kok. Pun jika kalian misalnya di SMA jurusan IPA tapi punya cita-cita buat jadi lawyer, akuntan, atau diplomat. Tidak ada salahnya memilih mengejar cita-cita daripada memilih jurusan saintek karena terpaksa.

Sekali lagi, kenali minat dan potensi diri. Karena dengan begitu kalian tidak akan kebingungan menentukan destinasi.

Jurusan terbaik itu tidak ada. Yang ada itu jurusan paling sesuai dengan minat dan potensi diri. Dan itu berbeda-beda antara masing-masing orang yang satu dengan yang lainnya. Apapun jurusan yang kalian pilih, pastikan jurusan tersebut bisa mengantarkan kalian kepada tujuan yang kalian inginkan.

Man behind @kamuitubeda. Full-time husband and father. Part-time blogger and web developer. For business inquiries, please view my contact. Thank you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *