Lahirnya AI dan Matinya Etika

Selama sehari kemarin, linimasa Twitter atau yang sekarang bernama X ramai oleh foto yang diubah menjadi layaknya sebuah adegan dalam animasi karya Studio Ghibli, salah satu studio animasi yang paling terkenal di Jepang, bahkan di dunia.
Sejak kelahirannya, AI yang dulu sempat diterjemahkan menjadi kecerdasan buatan dan kini mulai diterjemahkan menjadi akal imitasi yang mana tetap sama-sama AI kalau disingkat memang menimbulkan banyak perdebatan. Karena alih-alih menyelesaikan masalah-masalah keseharian, AI malah mengambil alih pekerjaan manusia.
Tidak pernah terbesit dalam benak saya kalau ternyata jurusan Teknik Informatika dan jurusan Desain Grafis menjadi dua di antara jurusan yang paling terdampak oleh AI. Dan saya sangat tidak menyarankan kamu untuk kuliah di dua jurusan ini kecuali kalau kamu memang benar-benar siap untuk bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan apa yang kamu pelajari di bangku perkuliahan.
Diakui atau tidak, AI sudah mengubah banyak hal. Perkembangan teknologi semakin ke sini akan semakin tidak terbayangkan lagi. Karena proses iterasi yang selama ini bersifat aritmatik akan berubah menjadi eksponensial dengan adanya AI.
Profesi yang selama 20 tahun terakhir menjadi salah satu profesi paling banyak diidamkan oleh banyak orang ternyata menjadi profesi yang mati paling dini. Dan pelakunya tidak lain adalah produk teknologi itu sendiri.
Sebagai seorang programmer, saya sangat berempati kepada para desainer. Karena sejujurnya kerja seorang desainer itu luar biasa berat. Dan AI membuatnya terlihat sangat sepele. Bahkan sampai tidak ada harganya sama sekali. Karena proses membuat ilustrasi yang biasanya membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa dilakukan hanya dalam beberapa detik saja. Meskipun tentu hasilnya masih jauh dari sempurna.
Tapi saya yakin, dalam waktu kurang dari 3 tahun, ilustrasi yang dihasilkan oleh AI tidak akan lagi bisa dibedakan dengan ilustrasi yang dihasilkan oleh digital artist. Karena proses learning AI yang luar biasa cepat dan bersifat eksponensial dengan semakin bertambahnya model dan jam terbang.
AI tidak akan mati. Karena kelahirannya adalah sebuah keniscayaan. Begitupun dengan tumbuh kembangnya. Satu-satunya yang bisa dilakukan sebenarnya adalah memfokuskan pengembangannya untuk apa? Untuk pelan-pelan membunuh manusia dengan mengurangi jumlah pekerjaan atau untuk semakin menyejahterakannya?
Di dunia yang ideal, seharusnya AI dan etika bisa berjalan seiringan tanpa harus saling menegasikan. Tapi sayangnya kita sedang hidup di dunia yang sangat amat jauh dari kata ideal.
Mari sejenak mengheningkan cipta atas nasib para desainer dan programmer yang harus mulai siap-siap beralih profesi karena AI sudah bisa mengerjakan lebih dari 50 persen apa yang mereka selama ini kerjakan.