Pengembangan Diri

Lupakan Passion, Fokus Pada Tujuan Hidup

2 Mins read
Fokus pada Tujuan Hidup

Pernah ada satu masa di mana saya merasa passion merupakan faktor terpenting dalam menentukan kesuksesan. Padahal sebenarnya saya juga tidak terlalu paham arti passion. Bahkan sampai sekarang.

Kebanyakan orang-orang mengartikan passion sebagai hasrat dan cinta. Yang kemudian berimplikasi mengharuskan kita untuk menemukan sesuatu yang kita cintai dulu baru bisa benar-benar sukses. Dan saya bisa pastikan bahwa pemahaman seperti ini tidak hanya salah. Tapi juga sangat menyesatkan.

Karena begitu seringnya dipakai dan dikampanyekan, kita menganggap passion itu sesuatu yang benar-benar penting dalam hidup. Padahal tidak. Passion mungkin penting, tapi tidak sepenting yang banyak orang bicarakan.

Lupakan Passion

Kalau saya boleh menyarakan, lupakan saja istilah passion. Karena sejak saya pertama mengenal istilah passion, sering mengampanyekan passion di blog saya yang lama sampai sekarang, saya belum pernah menemukan penjelasan yang paling pas mengenai istilah yang satu ini. Hampir semua orang mempunyai penjelasan dan pemahaman yang tidak sama satu sama lain tentang passion.

Dan di situlah permasalahannya. Karena tidak adanya pemahaman yang sama mengenai passion, semakin sering kita mengampanyekannya semakin banyak orang yang akan kebingungan ketika diminta untuk menemukan passionnya.

Kata “passion” bisa jadi merupakan salah satu istilah paling ambigu yang paling banyak digunakan di abad ke-21 selain kata “millenial“. Saya sendiri kurang paham mengapa istilah passion begitu masif dikampanyekan di 2 dekade terakhir. Yang kemudian membuat banyak orang menganggap passion itu layaknya pegadaian. Solusi segala permasalahan.

Daripada passion, mending kita kembali gunakan istilah-istilah yang lebih mudah dipahami. Seperti halnya cita-cita, tujuan hidup, minat, bakat, dan potensi diri. Istilah yang multitafsir seperti passion itu tidak selayaknya dijadikan solusi, karena masih jadi bagian dari permasalahan.

Fokus pada Tujuan Hidup

Daripada sibuk mencari passion yang bisa jadi tidak akan pernah kalian temukan sepanjang hidup. Karena kalian sendiri juga tidak benar-benar paham apa itu passion. Sama seperti saya. Dan semua orang-orang yang mengampanyekan pentingnya passion. Sebaiknya kalian fokus saja pada tujuan hidup kalian dalam setiap mengambil keputusan penting dalam hidup.

Baca Juga  4 Alasan Mengapa Resolusi Tahun Baru Sering Gagal

Mulai dari memilih jurusan, memilih peminatan, memilih kerja, memilih pasangan, memilih tempat tinggal, dan seterusnya. Pastikan kalian mempertimbangkan faktor tujuan hidup. Karena pada akhirnya, yang paling penting dalam hidup adalah itu: tujuan hidup.

Bagi kalian yang punya tujuan hidup untuk melestarikan lingkungan misalnya, tentu kalian tidak akan mengambil jurusan-jurusan yang tidak ada hubungannya dengan pelestarian lingkungan. Atau buat kalian yang punya tujuan hidup untuk bisa bekerja dengan gaji di atas rata-rata, pastikan kalian tidak akan mengambil jurusan yang bidang keilmuannya tidak terlalu dibutuhkan di dunia kerja.

Begitupun buat kalian yang tujuan hidupnya agar bisa segera pensiun di usia muda, tentu memilih jurusan kedokteran dan pendidikan adalah pilihan yang sia-sia. Atau bagi kalian yang ingin bisa bekerja di rumah, tentu kalian tidak akan melamar kerja di bidang front office yang mengharuskan kehadiran di setiap waktu.

Pun dalam memilih pasangan. Pastikan kalian memilih pasangan yang sesuai dengan tujuan hidup kalian. Atau minimal punya tujuan hidup yang bisa diselaraskan. Karena menikah itu perjalanan. Dan berjalan dengan tujuan yang berbeda-beda itu selain melelahkan, juga berpotensi banyak masalah di perjalanan.

Sekali lagi, jangan terlalu memikirkan passion. Karena istilah passion itu membingungkan. Dengan tidak lagi memikirkan passion, maka satu permasalahan hidup kalian menjadi berkurang. Sebagai gantinya, fokus saja pada tujuan hidup kalian dalam setiap mengambil keputusan.

Istilah yang multitafsir seperti Passion itu tidak selayaknya dijadikan solusi, karena masih jadi bagian dari permasalahan.

96 posts

About author
Man behind @kamuitubeda. Full-time husband and father. Part-time blogger and web developer. For business inquiries, please view my contact page. Thank you.
Articles

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: