);

Matinya Google Plus dan Kekalahan Google di Arena Social Media

RIP Google+

Setelah di tahun kemarin Path mengumumkan akan mengakhiri layanannya, di tahun ini giliran Google+ yang mengakhiri layanannya.

It is with deep regret to announce that Path service will be discontinued. It has been a long journey and we sincerely thank each one of you for your years of love and support Path.
Please visit here https://t.co/2MFh5A7C23 for more details. pic.twitter.com/rczKgx6ooW

— Path (@path) September 17, 2018

Sejak awal kemunculannya, Google+ memang tidak pernah jelas mau dikembangkan seperti apa. Seakan-akan Google+ hanya muncul sebagai pembuktian dari Google bahwa mereka juga bisa membuat social media. Dan itu tidak pernah cukup.


Buktinya, selama 9 tahun ini, tidak pernah ada yang bisa dijadikan pencapaian oleh Google+ selain jumlah usernya saja yang banyak karena sebagian besar orang punya akun Google sehingga biasanya ada rekomendasi dari Google untuk menggunakan Google+. Itu saja alasan membuat akun Google+.

Karena berdasarkan pengalaman saya pribadi, saya tidak banyak berinteraksi di Google+. Karena secara tampilan dan fitur, Google+ memang tidak cukup nyaman untuk digunakan dan dianggap sebagai social media. Karena memang sejak awal Google tidak pernah tahu apa yang mereka inginkan dengan Google+.

Berbeda dengan Google+, Path sebenarnya punya tujuan dan segmen pasar yang lebih jelas. Karena sejak awal Path menerapkan aturan pembatasan jumlah teman sebanyak 200 orang sehingga orang-orang menggunakan Path agar bisa berkomunikasi dengan lebih intim dengan orang-orang yang benar-benar mereka kenal di dunia nyata. Karena seringkali ‘teman’ di Facebook nyatanya tidak pernah benar-benar kita kenal orangnya.

Satu-satunya yang menyebabkan Path akhirnya menutup layanannya sepertinya adalah karena tidak bisa menemukan formula yang tepat untuk bisa mendapatkan revenue dari layanan mereka. Tidak seperti raksasa social media lain seperti Facebook, Twitter, dan Instagram yang sudah bisa mendapatkan revenue secara rutin melalui layanan iklan. Jumlah pertemanan yang terbatas akhirnya menjadi semacam bumerang bagi Path.

Lain Path, lain Google+. Tidak seperti Path, Google+ sejak awal memang tidak pernah percaya diri dengan layanan yang mereka tawarkan. Itu bisa dilihat dari penamaan layanannya yang menggunakan nama besar Google. Seakan-akan tidak ada nilai tambah lain selain Google+ adalah produk Google. Itu saja.

Kalau memang sejak awal mau dikembangkan jadi social media, mestinya Google belajar dari Youtube yang sukses mereka akusisi dan tidak pernah mereka namakan sebagai Google Video. Sama seperti yang dilakukan oleh Facebook ketika mengakusisi Instagram dan Whatsapp, Facebook tetap mempertahankan identitas Instagram dan Whatsapp.

Dari situ saja sudah bisa dilihat kalau sejak awal Google+ memang semacam produk yang lahir secara terpaksa karena tekanan sosial. Google sejak awal memang tidak pernah punya visi yang jelas tentang social media. Kegagapan Google itu terlihat jelas dalam layanan Google+ yang mempunyai banyak user tapi hampir tidak ada engagement antar user.

Bagaimanapun, engagement adalah salah satu faktor terpenting dalam social media. Karena engagement adalah gerbang bagi para pengiklan. Tanpa ada engagement, tidak akan ada iklan. Dan tanpa iklan, layanan gratis tidak akan bertahan lama. Facebook, Instagram, dan Youtube bisa menjadi sebesar yang sekarang karena user engagement mereka sangat tinggi.

Sejujurnya saya tidak terlalu merasa sedih ketika Google Plus diakhiri layanannya. Karena saya memang sangat jarang menggunakannya. Sampai saat ini, satu-satunya layanan Google yang membuat saya sedih ketika ditutup adalah Google Reader.

Dari Google+ kita jadi tahu bahwa nama besar Google saja tidak akan pernah jadi jaminan sebuah produk untuk sukses di pasaran. Kalau nama Google saja bukan jaminan, apalagi nama kita. Ya nggak, sob? 😂

Man behind @kamuitubeda. Full-time husband and father. Part-time blogger and web developer. For business inquiries, please view my contact. Thank you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *